Kamis, 01 April 2010

TAMBORA MENGGUNCANG JAGAD


Puncak Tambora

Dalam bahasa Bima, 'Ta Mbora' artinya: mari menghilang atau ayo lari atau ayo sembunyi. Ditinjau dari sudut terminologi bahasa boleh jadi nama Doro (gunung) Tambora muncul setelah terjadinya ledakan dahsyat tgl 5-11 April 1815.

Tiga bola api raksasa meluncur ke udara dari muntahan ledakan gunung Tambora, pkl 7 malam tgl 10 April 1815. Raja Sanggar yg memimpin sebuah kerajaan kecil tidak seberapa jauh dari Tambora, melihat dgn jelas kejadian dahsyat bersejarah itu. Sesaat setelah itu, seluruh gunung yg menjulang setinggi 4.200 mtr dari permukaan laut itu, tampak seperti sebuah benda api yg cair yg menyebar keseluruh penjuru.

Sang Raja, tak lama kemudian juga melihat hujan debu bercampur batu mulai turun di Sanggar. Lantas disusul angin puting beliung dahsyat yg merobohkan hampir semua rumah. Kerusakan sangat parah terjadi di wilayah Sanggar. Pohon2 besar dan akarnya tercerabut, terlempar ke udara bersama manusia, ternak, rumah segalanya. Gelombang laut sangat tinggi menyapu bersih semua bangunan yg dilaluinya.

Menurut laporan raja Sanggar, angin puting berputar2 lebih dari satu jam sehingga dentuman letusan tak terdengar. Namun setelah badai itu berlalu dentuman sangat dahsyat terjadi silih berganti sampai tgl 11 April 1815. Fenomena alam yg timbul tidak hanya menciptakan kengerian, tapi juga keindahan.

Debu dan kerudung sulfur menciptakan efek optikal yg spektakuler. matahari senja menyinari kerudung sulfur di lapisan Statosfer, sehingga tampak merah sampai matahari terbenam sekalipun. Pada musim panas dan gugur tahun 1815 langit senja indah juga muncul di Inggris. Ini memberi inspirasi bagi pelukis romantis Inggris, Joseph William Turner.

Kenangan kepada 195 tahun letusan Tambora, fenomena alam dan musim yg terjadi akibat ledakan dahsyat tersebut ditulis kembali oleh sejumlah media masa. Begitu juga media dan penulis asing, mereka menampilkan artikel dan kisah2 yg menarik. Sebut saja misalnya Bernice de Jong Boers menulis artikel dalam bhs Inggris : mount Tmbora in 1815: A Vulkcanic Eruption in Indonesia an it s Aftermaths. Menurut Boers, letusan tambora juga memicu pecahnya epidemik kolera poertama di dunia.

Pernah anda membaca artikel tentang tragedi Pompei? Sebuah kota dikaki gunung Vesuvius yg terkubur bersama warganya, suatu pagi di thn 79 M. Kebudayaan Pompei terkubur 1669 thn sampai diketemukan tahun1748. Semula Vesusius memberi hidup dgn kesuburan tanahnya tetapi juga mengirim malapetaka yg menghancurkan kota itu bersama warga dan budayanya. Warga Pompei sedang menyelenggarakan pesta tiba2 Vesusius meladak.

Jika Pompei terkubur 1669 thn, pusat kerajaan di Tambora dan kerajaan lainnya yg berdekatan hanya butuh waktu se abad lebih untuk menemukannya dari timbunan material letusan. Pemukiman tsb belum lama ini ditemukan oleh sekelompok arkeolog.

Letusan Tambora menyebarkan gas beracun, memusnahkan semua tanaman dan makhluk hidup disekitarnya. Kampung2 binasa, tak kurang dari 100.000 jiwa melayang, angka yg fantastis pd masa itu. Para pakar gunung berapi memperkirakan letusan tsb paling tidak empat kali lebih hebat dibandingkan dgn bencana Krakatau 1883.

Pakar vulkanologi dari Universitas Rhode Island AS, yg mempin penggalian Tambora, memperkirakan 10.000 org terkubur hidup2 dilokasi penggalian sedalam 3 mtr atau lebih. Tim Sigurdsson, termasuk tim arkeologi Indonesia menemukan aneka gerabah, tulang dan berbagai perhiasan logam dari perunggu. Mereka juga menemukan dua kerangka manusia yg terkubur bersama rumah mereka.

Dipercaya tak seorang pun selamat dari amukan letusan. Bayangkan menurut catatan para ahli vulkanologi, letusan itu memuntahkan tidak kurang dari 400 juta ton uap belerang ke angkasa. Tidak hanya pembunuh masal, awan belerang ini juga menyebabkan pendinginan global. Dampaknya sungguh luar biasa.

Para ahli sejarah mencatat di Eropa setahun kemudian (1816), menjadi thn tanpa musim panas. Ladang2 jagung di Maine, AS, musnah akibat cuaca beku. Di Perancis dan Jerman ratusan hektar ladang anggur dan jagung mati.Kalaupun selamat, panen thn ini terjadi lebih lambat.

KEKALAHAN NAPOLEON
Satu hal yg mencengangkan dikaitkannya peristiwa itu dgn kekalahan Napoleon Bonaparte di Waterloo 18 Juni 1815. Jika begitu adanya maka dampak ikutan letusan Tambora sangat luar biasa, mengubah peta politik dunia saat itu. Peta kekuasaan dunia berubah akibat kekalahan Napoleon. Bukan saja didaratan ERropa, tetapi juga perubahan kondisi politik di Nusantara pd abad ke-19.

Kenneth Spink, pakar geologi tampil dgn teori tersebut, tetapi masih perlu diuji kebenarannya. Dalam satu pertemuan ilmiah tentang Applied Geociences di Warwijk, Inggris ( the Goegraphical Magazines, Juni 1996 ), Spink mencoba menggambarkan betapa besar dampak letusan Tambora terhadap tatanan iklim dunia saat itu. Materi vulkanik yg terlontar ke udaradari letusan Tambora diyakini mempengaruhi cuaca di seluruh dunia.

Fenomena alam abnormal ini paling dirasakan di Amerika Utara da Eropa Barat. Awal Juni 1815, hanya berselang 1,5 bln setelah letusan Tambora, di Eropa barat terjadi hujan salah musim. Jalan2 berlumpur sulit dilalaui oleh mesin2 perang, seperti tank dan kendaraan lapis baja lainnya. kondisi ini tentu menghadang ambisi Napoleon untuk menginvasi sejumlah negara tetangga di Eropa.

Gerakan bala bantuan militer dgn senjata berat terhambat. Ruang gerak tokoh militer Perancis yg baru saja lolos dari pengasingan di pulau Elba, Maret1815 men adi terbatas. Sementara itu pasukannya di hantam tentara sekutu di Waterloo, 18 Juni 1815. Napoleon tertangkap dan menghabiskan sisa hidupnya sampai 1821 di pembuangannya, Saint Helena.

Kemenangan sekutu di Waterloo, berdampak pada peta penjajahan di Indonesia. Wilayah2 jajahan Belanda, seperti Riau yg diduduki Inggris dikembalikan ke Belanda. Penguasa Inggris di Indonesisa Thomas Stanford Raffles segera mengumpulkan laporan tentang letrusan Tambora.

Deru letusan sejak tanggal 5 April 1815, di Yogyakarta semula disangka tembakan meriam. Keesokan harinya langit gelap, matahari tertutup awan tebal. Hari2 berikutnya jatuh huijan debu. Tanggal 10 April 1815 ledakan2 terdengar semakin keras, sampai Cirebon. Bahkan hujan debu di Batavia (Jakarta). Letusan memuncak tanggal 11 April 1815 bahkan terdengar sampai jarak 2500 km. Siang itu gelap gulita. Bumi bergetar seperti mau oleng. Debu memenuhi angkasa, angin bersiungan. ( Raffles Report of Eastern Isles, Oxford Univercity Press 1984 )

Pesan dari penulis :
Sebagai manusia yg tinggal di negara vulkanik dan patahan bumi yg rawan bencana sudah sewajarnya jika kita mawas diri. Hargailah alam, hargailah sesama manusia dan selalu mendekatkan di pada-Nya. Semoga kita dijauhkan dari kehancuran. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini